Atasi Krisis Gas Dengan Tiga Solusi

Beberapa pabrik pupuk di Indonesia seperti PT Pusri Palembang akan makin sulit mendapatkan bahan baku gas. Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan dulu gas banyak, tapi pemakainya belum banyak. “Pabrik pupuk selalu menjadi prioritas,” kata Dahlan saat menjadi pembicara pada sarasehan pers yang mengangkat tema ‘Optimalisasikan Distribusi Gas Mendukung Industri Pupuk Nasional’ di PT Pusri Palembang, kemarin.
Tapi sekarang tidak, makin banyak industri yang menggunakan bahan baku gas. “Sekarang gas diperebutkan. Ini karena kebutuhan gas makin tinggi, sementara ketersediaan gas tetap. PLN butuh gas untuk pembangkit listrik, industri, keperluan ekspor, bahkan untuk bahan bakar kendaraan bermotor (konversi BBM ke BBG),” ujarnya.
Nilai ekonomi akan menjadi pertimbangan, produsen gas tentunya saja akan menjual ke industri yang berani beli lebih mahal. “PLN berani beli US$ 6 per MMBTU, industri US$ 9 per MMBTU, Singapura berani US$ 14 per MMBTU, tapi pabrik pupuk hanya mampu beli US$ 3-4 per MMBTU. Karena pupuk yang diproduksi untuk kebutuhan petani,” tukasnya. Makanya harus dijual murah, sementara jika pabrik pupuk beli gas mahal bisa rugi. “Kondisi pabrik pupuk sekarang terjepit, tidak bisa beli gas dengan harga mahal,” tambahnya.
Makanya harus ada regulasi pemerintah. “Kalau mau swasembada pangan, harus ada proteksi untuk pabrik pupuk. Pemerintah bisa mengaitkan dengan izin produksi gas misal boleh ambil gas jika produsen menjual sebagian hasilnya ke pabrik pupuk,” tukasnya. Bagi PT Pusri Palembang, lanjut Dahlan, ada tiga solusi untuk mengatasi krisis gas.
Yang pertama, gunakan batubara untuk membangkitkan listrik. “Jadi gas yang selama ini digunakan untuk pembangkit listrik bisa dialihkan untuk bahan baku pupuk. Pembangkit listrik boleh dengan batubara, tidak boleh dengan gas,” tukasnya. Pusri bisa membangun pembangkit listrik dari batubara lebih besar. Kemudian listrik dijual ke PLN. Sementara PLN memberikan gasnya kepada Pusri. “Yang penting kan PLN dapat listrik, tak peduli listrik dari apa,” tambahnya.
Terakhir, Pusri tak sekedar membuat listrik untuk PLN tapi menyiapkan CNG (Compressed Natural Gas) dimana gas ditampung, dipadatkan, dan dipakai untuk listrik. “Digunakan pada saat kebutuhan listrik naik, biasanya antara pukul 16.00-22.00 WIB,” jelasnya. Bisa menggunakan batubara untuk membangkitkan listrik karena konsumsi listrik stabil di luar jam tersebut. “Kalau menggunakan gas di luar jam 16.00-22.00 sayang. PT Pusri bisa menyiapkan ini untuk PLN,” tambahnya.
Dirut PT Pusri Eko Sunarko menyambut baik saran Menteri BUMN. “Akan coba kita lakukan di 2013-2014. Tapi sementara baru kita mulai dari penggantian pembangkit steam dan listrik dari bahan baku batubara, efisiensi penggunaan gas melalui pendirian pabrik IIB (hemat energi), serta kepemilikan KP batubara (jaminan ketersediaan pasokan batubara),” tukasnya. Diketahui, PT Pusri Palembang saat ini memiliki 4 pabrik yang rata-rata berumur di atas 30 tahun, dengan kapasitas urea 2,090 juta ton, amonia 1,324 juta ton, kebutuhan gas mencapai 225 MMSCFD dan konsumsi gas 33-38 MMBTU per ton.

Sumber : klik disini…

About Hijrah

Hidup adalah perjuangan

Posted on 24 Februari 2012, in Lokal. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: